Minggu, 17 April 2011

hidup dalam gambar dan tulisan

hidup itu penuh warna, arsiran, guratan, coretan, apapun itu namanya. seperti menggambar hidup, kita beri warna agar terlihat lebih indah, walau sesekali terdapat kesalahan dalam mewarnai sehingga membuat gambar tersebut tampak tidak sempurna. seperti menulis hidup, semua perasaan dituangkan dalan kata-kata, walau sesekali terdapat kesalahan dalam kata lalu kita coret sehingga membuat tulisan tersebut tampak tidak sempurna.

beberapa bulan lagi berumur 20 tahun. beberapa tahun lagi bakal masuk ke dunia kerja. semakin banyak warna, semakin banyak tulisan. semakin banyak menghadapi masalah, semakin banyak waktu bertemu dengan kegalauan. dengan masalah yang sudah dihadapi sampai saat ini, apa sudah bisa disebut dewasa? mandiri? belum.
aku terus berjalan, menyusuri waktu. banyak belokan tapi aku teguh. kanan kiri ku banyak orang-orang baru yang sebelumnya belum pernah aku kenal, bahkan aku tidak pernah membayangkan akan bertemu mereka. mau tidak mau aku harus kenal dengan mereka. ada yang menawarkan bahagia, ada yang menawarkan sedih. yang buat aku takut, ketika mereka semua menawarkan masalah. takut?
aku kecil, dengan ukuran tubuh seperti ini. otak hanya memuat sedikit memori, tidak dapat berpikir banyak. tapi mereka, yang menawarkan masalah, memaksa ku untuk berpikir dan menyimpan sedikit hikmah dari masalah itu. ada hal yang terus membayangiku. masa lalu.
teringat insiden satu tahun yang lalu. ketika seseorang, dengan sengaja atau tidak, telah menghancurkan bangunan kokoh mimpi-mimpi ku yang hampir sempurna aku susun. seketika itu juga, harapan penuh ku padanya pun hilang. yang ada hanya penyesalan, seumur hidup. mengucapkan selamat tinggal padanya pun tidak dapat memperbaiki itu semua. saat itu, aku seperti berada di suatu ruangan yang sangat gelap. terpuruk dan sangat terpuruk. sebelum itu, aku merasa tidak menjadi diri sendiri. seperti boneka yang dimainkan dengan tali. menurut saja apa yang diinginkan penguasa boneka. ya, aku boneka dan dia penguasanya.
berbulan-bulan aku berteman dengan kegalauan. berakibat buruk pada semua hal. termasuk proses menuju masa depan. tapi aku masih punya api kecil sebagai penyemangat. dibuat oleh beberapa orang yang sangat berharap penuh padaku. memang kecil tapi efeknya sangat besar. aku bangkit dan perlahan keluar dari ruangan gelap ini. tapi masih berteman dengan kegalauan.
sepanjang waktu, aku kembali mencari diri ku sendiri. mencari puing-puing bangunan mimpi ku dulu yang masih tersisa dan menggabungkannya dengan yang baru.
masalah ku saat itu sangat amat bertumpuk. galau datang dari berbagai daerah. ketika aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus berpindah tempat mencari jalan baru. ya, tempat baru. adaptasi yang sangat sulit.
asing. tempat yang asing. orang-orang asing yang harus aku kenal. komunitas asing yang membuatku memaksakan diri untuk berbaur. dan di sana, aku melihat sosok asing yang menawan. aromanya, kata-katanya, semuanya seperti bumbu dalam masakan, rasa yang menyempurnakan. lalu dia menuntun jalanku. dia memberikan sedikit api dalam api kecil ku. aku tidak pernah berharap banyak, aku tidak mau terjatuh dua kali. tapi dia memberikan apa yang aku butuhkan. aku pun tak bisa menolak.
seiring berjalan waktu, aku merasa dalam bayang-bayang masa lalu yang tidak diketahui siapapun. itu yang membuat ku risih. karena memendam sendiri hal yang selalu membuat ku sakit, tapi aku tidak membuang mata air ku. ketika langkah kami berada di anak tangga ke empat, hati memaksa ku untuk memperkenalkan bayang-bayang. mereka berkenalan, berjabat tangan dan virus bayang-bayang menyebar ke hati dan pikiran.
semua rasa datang menuju hati. ada mata air yang tidak bisa kulihat. peringatan itu sudah kunyalakan sejak awal. bayang-bayang itu sudah bersama ku selama satu tahun ini. aku tidak apa-apa. masih berteman dengan galau. penyesalan pun seperti bagian dalam diri ku. mimpi-mimpi yang baru telah ku susun. tidak munafik juga kalau aku butuh orang asing. tapi kalau ragu, lebih baik tinggalkan, daripada harus meruntuhkan lagi bangunan mimpi-mimpi, mimpi siapapun itu, entahlah.
mata ku ini sudah perih dengan air asin. hati ku ini sudah terbiasa kena pecahan. tubuh ku ini sudah sering merasakan sakit. aku tidak memaksa. semua terserah. kalaupun harus berjalan sendiri, aku tidak apa-apa. aku punya teman, galau dan sedih. mereka akan dengan senang hati menemani hari-hari ku. aku tidak main-main. seperti inilah kenyataannya. aku minta maaf sama aku, tapi aku tidak mau menerima. apa yang bisa aku lakukan? oh, Tuhan.
saat ini aku hanya sedang menyusun satu persatu puing-puing mimpiku. akan kubuat pagar yang besar dari semangat dan cita ku, agar tak ada lagi yang dapat menghancurkan walaupun dengan ribuan bom atom, atau apapun. aku berdiri sendiri, dengan kaki ku. dia penuntun jalanku. aku punya hati, yang selalu menunjukkan hal-hal yang harus aku lakukan. aku punya pikiran, yang membantu ku agar aku tidak terburu-buru bertindak. aku punya tangan, membantu ku mengerjakan semua. aku punya tubuh, penopang hidup dan pelindung dari pecahan-pecahan agar hati ku tidak sakit. aku punya Allah, yang selalu memberikan ku cahaya-cahaya yang harus aku tuju, selalu membantu ku di saat aku jatuh dan terus terjatuh seperti bayi yang baru belajar berjalan, selalu menjadi tempat aku untuk meminta sedikit kekuatan agar aku tetap kokoh dengan tubuh ini walaupun banyak pecahan-pecahan. aku punya api kecil, dari banyak orang yang selalu selalu dan selalu menjadi alasan kuat kenapa aku bisa bertahan sampai saat ini dan dengan kondisi seperti ini.
hey, lihatlah, banyak yang aku punya. tak usah khawatir. aku sudah biasa. aku hanya ingin merasakan nikmatnya bersyukur dalam keadaan seperti ini. bersyukur masalah ku tidak seberat masalah-masalah mereka yang mungkin aku tidak bisa lalui. bersyukur aku bisa melewati sulitnya masa-masa itu. bersyukur dengan apa yang aku punyai. bersyukur ada api kecil. bersyukur ada orang asing yang memberi ku sedikit hal yang buat ku seperti ini. bersyukur aku bisa menemukan puing-puing mimpi dan kubangun dengan mimpi yang baru. bersyukur aku masih bisa berjalan dengan susah payah menuju pulau yang aku impikan, tujuan tujuan tujuan dan tujuan sampai akhir. bersyukur aku bisa berada dalam tubuh yang sakit tapi masih mampu melindungiku. bersyukur punya kaki, tangan, hati dan pikiran yang telah menjadi sahabatku sejak aku muncul. bersyukur, Allah sangat membantuku saat aku terpuruk. bersyukur atas semua hal.
lalu bayang-bayang itu?
biarlah dia terus mengikutiku. seperti peliharaan yang setia dengan majikannya. aku sudah biasa diganggu bayang-bayang. mau diusir pun percuma, dia akan kembali pada rumahnya, aku. jadi aku tak apa. kalau pun tak ada yang menerima, aku akan terus berjalan berjalan dan berjalan. sampai miniatur bangunan mimpiku ini menjadi bangunan megah yang tidak kalah dengan bangunan-bangunan tinggi lainnya. aku yang mendesain dan aku sendiri yang akan membangunnya. sampai tinggi dan amat sangat tinggi, menuju tujuan akhir, sampai aku bertemu Allah.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar